SHALAWAT CINTA, KATANYA.
"Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu dapat berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa rencanakan cintamu untuk siapa," ucapan President Jangcukers mengenai cinta selalu membekas dihati para manusia yang mendengarnya, termasuk Sansa.
Bagi Sansa, Teka teki yang paling rumit adalah menikah dan mencintai, kalo kalian gak setuju itu urusanmu. Ia tidak memaksa siapapun untuk setuju dan masuk dalam dunianya, pun sebaliknya. Ia tidak ingin menjadi neraka bagi orang lain dan tidak akan membiarkan dirinya tenggelam dalam neraka yang buat oleh jutaan manusia yang ia temui.
Sansa mencintai Rasyid tapi bukan untuk memilikinya, bagaimana ia akan memiliki seseorang jika dirinya sendiri bukanlah miliknya. Dunia kadang mengajak kita bergurau sekaligus berpikir dengan tidak mengenalkan waktu.
Tuhan mempertemukan mereka diujung pulau Jawa, di tengah hamparan manusia yang datang dari berbagai pelosok kota. Rasyid lelaki yabg baik tapi tidak tampan, ia cerdas tapi tidak menarik. Sansa tak tau apa yang ia rasa, ia juga tak tau kenapa.
Usianya masih terbilang muda saat ia harus menerima kalimat yang Rasyid lontarkan, tak sedikitpun ia mengelak, Sansa percaya Rasyid adalah lelaki yang tepat.
"Tunggu aku, aku akan datang ke rumahmu untuk menemui orang tuamu tepat setelah lulus S2," ucap Rasyid saat bus antar Provinsi memisahkan mereka.
Andai saja kalimat itu tidak pernah terlontar, Sansa yakin dunia akan terasa baik-baik saja. Ia berusaha mencintainya dengan sederhana seperti puisi yang dirangkai oleh Sapardi, tapi ternyata mencintai tak bisa sesederhana itu.
Sansa sibuk dengan dunianya, pun Rasyid juga sama. Waktu terus berjalan, dunia mempertemukan manusia dengan segala tipu muslihatnya. Bagai ombak di lautan, Rasyid hadir hanya untuk membasahi pasir di bibir pantai nan kering lalu pergi dengan cepat, berkali-kali hingga akhirnya surut itu tiba.
Baru kali ini Sansa merasakan tusukan dunia digital yang menembus fuad, sangat menyakitkan saat sebuah picture yang design rapih mempu menjadikannya patung bernapas. Sansa dikenal sebagai manusia yang selalu bersikap bodo amat namun kali ini dalam diam ia tak lagi bisa menjadi sebodo amat itu. Sansa tak menyukai kartu undangan apalagi yang bersangkutan dengan pernikahan, baginya itu adalah kekejaman.
Entahlah Sansa harus bahagia atau malah sebaliknya, Rasyid yang ia anggap lelaki terbaik ternyata akan memperbaiki separuh agamanya dengan orang lain.
"Kamu masih suka shalawat?" Tanya Rasyid pada Sansa lewat Whatsapp, seminggu sebelum ia menikah, Rasyid memang lelaki yang taat pada agamanya.
"Jarang banget," jawab Sansa.
"Shalawat Jibril amalin, ya!" ucap Rasyid sambil mengirim sepenggal kalimat untuk memuji Rasulullah.
"Iya," jawab Sansa singkat.
"Inget ya, shalawat itu jangan lupa dibaca, I under your spell San, tapi aku gak bisa menentang kehendak Tuhan," pesan Rasyid lalu hilang.
"Kenapa kamu harus datang lagi saat semua sudah nanar untuk dipandang? Apa kamu pikir semua baik-baik saja? Apa kamu pikir sekeping hati bisa berdiri sendiri?" Lirih Sansa dalam hati.
Mungkin itulah sekenario terbaik dari Tuhan untuk Sansa, naskahnya baru dapat ia baca saat Tuhan tak mengizinkan mereka bersama. Sansa harus ikhlas seperti Gading melepas Gisel, seperti daun yang jatuh dan tak pernah membenci angin.
Comments
Post a Comment