TOLERANSI SEBAGAI IDEOLOGI BERAGAMA


Keberagaman Agama di Indonesia
Keberagaman agama merupakan suatu hal yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya di dunia ini, terutama di negara Indonesia. Disadari atau tidak, keberadaan selalu menghiasi kehidupan, dan dari keberagaman inilah toleransi harus lahir guna menghargai hak sesama. Indonesia merupakan salah satu negara terluas di dunia dengan kepulauan yang cukup banyak. Terdapat sekitar 17.504 pulau yang termasuk ke dalam wilayah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagai negara yang cukup besar, dan berpegang teguh pada semboyan Bhineka Tunggal Ika, salah satu negara yang termasuk ke dalam anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) ini memiliki banyak sekali keberagaman, terutama dalam hal agama. Dalam Penetapan Presiden Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, negara secara resmi hanya mengakui enam agama, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Selain enam agama di atas, pemerintah menetapkannya sebagai  animisme atau aliran kepercayaan.

Adanya keberagaman agama ini tidak terlepas dari posisi strategis yang dimiliki wilayah Indonesia. Berada di garis khatulistiwa, membuat banyak sekali perdagangan asia, afrika, dan jazirah arab yang berlabuh di Indonesia untuk berisitirahat, berdagang, bahkan singgah kemudian menetap di Indonesia. Melalui pedagang-pedagang asing itulah, keberagaman agama mulai menyebar di Indonesia. Oleh sebab itu, keberagaman agama sudah ada semenjak dahulu kala. 

Konflik dalam Agama
Konfik keberagaman antara agama bisa dibilang sama tuanya dengan lahirnya agama itu sendiri, penyebab adanya konflik ini sering kali di picu oleh perbedaan pandangan maupun pendapat, atau yang paling menonjol sering kali karena merasa paling benar antara kelompok satu dengan yang lainnya.

Walaupun negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu, akan tetapi hal ini tidak bisa dijadikan patokan untuk menjadi penghalang adanya konflik antar agama. 
Konflik-konflik itu, terkadang berjalan cukup lama, seperti konflik perang Salib yang menghabiskan waktu berabad-abad, dari abad ke-11 sampai abad ke-17. 

Perang Salib merupakan perang terbesar dalam sejarah umat Kristen dan Islam yang di latar belakangi oleh beberapa faktor dan salah satunya yaitu agama. 
Di Indonesia sendiri, Sejak kejatuhan Soeharto, kenaikan pemerintah reformasi Habibie dan pemerintah Abdurrahman Wahid, kekerasan fisik dan beberapa format pembunuhan massal sudah berlangsung di bagian tertentu provinsi Indonesia. Di dalam keprihatinan terhadap  konfrontasi dan konflik lokal, baik yang melibatkan etnis dan agama hingga memicu ketidak harmonisan sosial. (Firdaus M. Yunus: Konflik Agama di Indonesia).

Konflik besar yang cukup mengemuka di Indonesia diantaranya yaitu kasus Poso di Ambon yang dilatar belakangi oleh faktor Agama dan budaya, Sunni dan Syiah di Jawa Timur dan GKI Yasmin di Bogor. Para pelopor dari setiap agama mampu mendoktrin para penganutnya dan permasalahan agama ternyata mampu menjadi kekuatan besar guna mengorbankan semangat para pengikutnya.

Sikap Toleran Antar Umat Beragama
Toleransi lahir karena adanya perbedaan, menurut Cak Nun hakikat toleransi yang sebenarnya adalah ketidaksetujuan terhadap suatu hal dan cenderung menyalahkan akan tetapi tetap bisa hidup rukun satu sama lain sebagai manusia.

Menilik lebih dalam tentang tolerasi, teringat film India yang berjudul Bajrangi Bhaijaan. Film tersebut sangat kental dengan nuansa perbedaan agama dan budaya. Film yang di produksi pada tahun 2015 tersebut memberikan pandangan baru bahwa kehawatiran antar keberagaman itu tidak perlu akan tetapi seharunya kita selaku manusia yang beragama bisa belajar tentang menjaga kesimbangan rasa kemanusiaan, saling menghargai agama masing-masing dan tentu tidak ada paksaan dalam beragama.

Lebih lanjut, rasanya penonton akan sangat terenyuh dengan kejujuran seorang aktor lelaki, pemeluk Agama Hindu yang bernama Pawan, selain jujur ia juga berjuang keras bahkan bertaruh nyawa demi mempertemukan kembali Shahida (Munni) gadis kecil yang tersesat di Delhi kepada keluarganya di Pakistan yang beragama Islam. Tebaran cinta kemanusiaan yang tergambar dalam diri Pawan, sepertinya memberi pesan kepada kita, bahwa siapapun yang kita temui dalam hidup, satu darah atau tidak, satu kepercayaan atau tidak, satu negara atau tidak, kita harus tetap merangkul dan saling tolong menolong, karena pada hakikatnya tidak ada manusia yang mampu menjalani kehidupan sedirian.

Sebagai makhluk yang berakal, manusia seharusnya memahami bahwa keberagaman merupakan ketetapan dan anugerah dari Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat karena ia tidak lahir dari keinginan manusia dan itu benar-benar real merupakan diluar kehendak dan kemampuan manusia itu sendiri. Alangkah baiknya jika kita mensyukuri keberagaman dan menjadikannya sebagai wasilah menuju cinta Tuhan, karena sebelum “Habluminaullah” terdapat “Habluminanas” terlebih dahulu. Jika kita berbuat baik akan sesama maka yakinlah bahwa Tuhan akan menurunkan kebaikan juga terhadap kita tanpa harus bertanya 'agamanya apa?'. 

Bangsa Indonesia, jauh-jauh hari seharusnya sudah menyadari juga bahwa negara kita dibangun atas dasar keberagaman dan bahkan Indonesia dapat menjadikan keberagaman menjadi sebuah identitas. Kenapa hal ini perlu di sadari? karena kurangnya kesadaran akan mengakibatnya ketidakpedulian yang berujung menjadi ketidakpaham dan melahirkan intoleran. 

Melihat kenyataan tersebut, pentingnya sikap toleransi dijadikan sebagai ideologi dalam beragama guna menghindari intoleran itu sendiri. Tidak semestinya kita gagap terhadap perbedaan dan tidak boleh terjebak oleh narasi mayoritas dan minoritas karena pada hakikatnya negara merupakan alat untuk menciptakan kesejahteraan bersama dan setiap warga negara harus mendapatkan hak yang sama. 

Andai saja manusia mampu seperti Gereja Katredal dengan Masjid Istiqlal di Jakarta, mereka berhadapan, saling menyaut satu sama lain tapi tidak pernah memperebutkan siapa yang harus masuk kepada gedung mereka, damai sentosa.

Comments

Popular posts from this blog

MY HERO

AGAVE NIRMALA